SISTEM KEPERCAYAAN PADA MITOS RATU KIDUL YANG DIYAKINI OLEH MASYARAKAT YOGYAKARTA

MAKALAH
SISTEM KEPERCAYAAN PADA MITOS RATU KIDUL YANG DIYAKINI OLEH MASYARAKAT YOGYAKARTA
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Ilmu Budaya
Dosen: DR. Amir Ma’ruf, M. HUM.

Ditulis oleh:
Linda Sari Haryani
11/320228/SA/16212

PROGRAM STUDI SASTRA ARAB
JURUSAN SASTRA ASIA ARAB
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2011

KATA PENGANTAR

Segala puja dan puji kepada Allah SWT, Dzat yang mencipta makhluk dan menggenggam alam semesta. Segala pinta dan harap hanya kepada-Nya, Sang Pengasih dan Pengabul doa hamba-hamba. Kepada Allah-lah seluruh hidup disandarkan, kepada-Nya jua segala urusan diserahkan. Shalawat serta Salam selalu untuk manusia paling sempurna di dunia, kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW yang mulia.
Berkat rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya saya dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Sistem Kepercayaan Pada Mitos Ratu Kidul Yang Diyakini Oleh Masyarakat Yogyakarta” ini tepat waktu, meskipun masih sangat sederhana dan masih banyak kekurangan.
Makalah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya. Dengan tujuan agar para pembaca dapat memahami makna sebenarnya dari frase ataupun sebutan “Ratu Kidul” yang sering digunakan oleh masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta
Makalah ini tersusun berkat dukungan berbagai pihak. Untuk itu perkenankanlah kami dengan kerendahan hati untuk mengucapkan terimakasih kepada:
1. DR. Amir Ma’ruf, M. HUM. selaku dosen mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya,
2. Penulis buku ‘Mitos Ratu Kidul dalam Perspektis Budaya” dan buku ‘Mitos dan Komunikasi’ yang telah memberikan banyak referesi dalam penulisan makalah ini,
3. Para penulis artikel yang juga telah memberikan banyak referensi,
4. Pepustakaan Universitas Gadjah Mada yang telah memberikan banyak referensi,
5. Semua pihak, Sahabat, Keluarga Penulis, serta Rekan-Rekan yang telah mendukung dalam bentuk apapun sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah yang dapat saya sajikan masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saya sangat mengharap kapada para pembaca yang budiman untuk ikut serta meneliti makalah ini serta memberikan masukan agar dapat lebih disempurnakan lagi dalam penulisannya.
Kepada semua pihak yang mendukung dalam proses penyelesaian makalah ini, kami ucapkan terimakasih yang tak terhingga. Semoga dengan disusunnya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Hanya kepada-Nyalah kita menyembah dan memohon pertolongan.
Walhamdulillahi robbil alamin

Yogyakarta, 8 November 2011

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iii
BAB I: Pendahuluan 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II: Pembahasan
A. Sistem Kepercayaan Masyarakat Yogyakarta dalam
Mitos Ratu Kidul 3
B. Kisah Ratu Kidul Dalam Mitos Jawa 5
C. Mitos Ratu Kidul Dilihat Dalam Berbagai Perspektif 7
BAB III: Penutup
Kesimpulan 10
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Perkembangan globalisasi yang sangat besar yang terjadi saat ini rupanya tidak mempengaruhi keyakinan masyarakat Yogyakarta terhadap adanya Ratu Kidul yang mendiami laut Selatan. Mereka masih percaya bahwa Ratu Kidul itu ada dan dia yang mendiami laut selatan. Sehingga apapun yang terjadi dengan laut selatan mereka pasti menghubungkannya dengan Ratu Kidul.
Ratu Kidul sendiri menurut pemikiran orang jawa berarti seorang wanita cantik yang sangat berkuasa di laut selatan. Sehingga agar tidak terjadi suatu hal yang buruk di wilayah sekitar pantai maupun laut selatan, warga masyarakat Yogyakarta melakukan kegiatan larung sesaji di laut selatan yang biasanya dipimpin oleh para abdi dalem keraton. Kegiataan ini masih terus saja dilakukan hingga saat ini, sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan ini adalah sebuah budaya yang ada di Yogyakarta. System kepercayaan seperti ini sama dengan system kepercayaan yang dilakukan pada zaman manusia praaksara. Mereka menyadari bahwa ada kekuatan lain di luar mereka. Oleh sebab itu, mereka berusaha mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut. Caranya ialah dengan mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, atau upacara ritual lainnya. Beberapa sistem kepercayaan manusia purba tersebut adalah animisme, dinamisme, dan totemisme.
Masih adanya sistem kepercayaan manusia purba ditengah perkembangan globalisasi inilah yang menginspirasi penulis untuk menulis makalah ini.

2. Rumusah Masalah
a. Bagaimanakah sistem kepercayaan masyarakat Yogyakarta?
b. Bagaimanakah kisah Ratu Kidul dalam Mitos Jawa?
c. Bagaimanakah penjelasan dari mitos Ratu Kidul tersebut?

3. Tujuan
a. Mengetahui sistem kepercayaan masyarakat Yogyakarta.
b. Mengetahui kebenaran kisah Ratu Kidul dalam mitos Ratu Jawa.
c. Mengetahui penjelasan dari mitos Ratu Kidul.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Sistem Kepercayaan Masyarakat Yogyakarta dalam Mitos Ratu Kidul
Masyarakat Yogyakarta yang terkenal dengan masyarakat yang memiliki budaya yang sangat besar meyakini adanya sesosok makhluk yang menghuni dan menguasai laut selatan, biasa disebut dengan Ratu Kidul. Sebagai perwujudan adanya makhluk tersebut, setiap bulan yang telah ditentukan masyarakat Yogyakarta yang diwakili oleh adbi dalem keraton memimpin ritual larung sesaji yang dipersembahkan untuk Ratu Kidul tersebut.
Sistem kepercayaan seperti ini telah ada sejak zaman praaksara. Mereka menyadari bahwa ada kekuatan lain di luar mereka. Oleh sebab itu, mereka berusaha mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut. Caranya ialah dengan mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji, atau upacara ritual lainnya. Beberapa sistem kepercayaan manusia purba adalah seperti berikut.
a. Animisme
Animisme adalah kepercayaan terhadap roh yang mendiami semua benda. Manusia purba percaya bahwa roh nenek moyang masih berpengaruh terhadap kehidupan di dunia. Mereka juga memercayai adanya roh di luar roh manusia yang dapat berbuat jahat dan berbuat baik. Roh-roh itu mendiami semua benda, misalnya pohon, batu, gunung, dan sebagainya. Agar mereka tidak diganggu roh jahat, mereka memberikan sesaji kepada roh-roh tersebut.

b. Dinamisme
Dinamisme adalah kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat memengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup. Mereka percaya terhadap kekuatan gaib dan kekuatan itu dapat menolong mereka. Kekuatan gaib itu terdapat di dalam benda-benda seperti keris, patung, gunung, pohon besar, dan lain-lain. Untuk mendapatkan pertolongan kekuatan gaib tersebut, mereka melakukan upacara pemberian sesaji, atau ritual lainnya.

c. Totemisme
Totemisme adalah kepercayaan bahwa hewan tertentu dianggap suci dan dipuja karena memiliki kekuatan supranatural. Hewan yang dianggap suci antara lain sapi, ular, dan harimau.
Dalam melaksanakan upacara penyembahannya, manusia purba membuat berbagai bangunan dari batu. Masa ini disebut sebagai kebudayaan Megalithik atau Megalithikum (kebudayaan batu besar). Bangunan-bangunan tersebut masih dapat ditemui saat ini. Sarana upacara ritual manusia purba antara lain seperti berikut.
(1) Peti kubur batu, bangunan yang berfungsi sebagai peti jenazah. Peti kubur ada yang berbentuk kotak persegi panjang, ada pula yang berbentuk kubus dan memiliki tutup dari batu bergambar (disebut juga waruga), serta ada pula yang berbentuk menyerupai mangkuk (disebut juga sarkofagus). Di dalamnya, selain jenazah, juga terdapat ‘bekal kubur’.
Sistem kepercayaan tersebut diatas menjadi cikal bakal dari Agama Ardhi, atau agama yang berasal dari bumi dimana agama ini hasil usaha dari manusia untuk menemukan sumber kekuatan yang berada di luar manusia.
Praktek kenyataan yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta yang diwakili oleh para abdi dalem keraton tersebut sama dengan yang dilakukan oleh manusia pada zaman praaksara. Mereka sama-sama mempercayai bahwa ada roh yang mendiami suatu benda, kemudian mereka memujanya dengan memberikan sesaji agar hidup mereka tidak digangggu dan dapat memberikan keberhasilan kepada yang memujanya. Sistem kepercayaan ini sering disebut dengan animisme.

2. Kisah Ratu Kidul Dalam Mitos Jawa
Nyi Roro Kidul adalah seorang ratu yang cantik bagai bidadari, kecantikannya tak pernah pudar di sepanjang zaman. Di dasar Laut Selatan, yakni lautan yang dulu disebut Samudra Hindia – sebelah selatan pulau Jawa, ia bertahta pada sebuah kerajaan makhluk halus yang sangat besar dan indah.
Siapakah Ratu Kidul itu? Menurut sumber, pada mulanya Ratu Kidul adalah seorang wanita, yang berparas elok, ia bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia sering disebut Dewi Srengenge, yang artinya Matahari Jelita. Kadita adalah putri Raja Munding Wangi. Walaupun Kadita sangat elok wajahnya, Raja tetap berduka karena tidak mempunyai putra mahkota yang dapat disiapkan. Baru setelah Raja memperistrikan Dewi Mutiara lahir seorang anak lelaki. Akan tetapi, begitu mendapatkan perhatian lebih, Dewi Mutiara mulai mengajukan tuntutan-tuntutan, antara lain, memastikan anaknya lelaki akan menggantikan tahta dan Dewi Kadita harus diusir dari istana. Permintaan pertama diluluskan, tetapi untuk mengusir Kadita, Raja Munding Wangi tidak bersedia.
“Ini keterlaluan,” sabdanya. “Aku tidak bersedia meluluskan permintaanmu yang keji itu,” sambungnya. Mendengar jawaban demikian, Dewi Mutiara malahan tersenyum sangat manis, sehingga kemarahan Raja, perlahan-lahan hilang. Tetapi, dalam hati istri kedua itu dendam membara.
Keesokan harinya, Mutiara pengutus inang mengasuh memanggil seorang tukang sihir, namanya Jahil. Kepadanya diperintahkan, agar kepada Dewi Kadita dikirimkan guna-guna.
“Bikin tubuhnya berkudis dan berkurap,” perintahnya. “Kalau berhasil, besar hadiah untuk kamu!” sambungnya. Jahil menyanggupinya. Malam harinya, tatkala Kadita sedang lelap, masuklah angin semilir ke dalam kamarnya. Angin itu berbau busuk, mirip bau bangkai. Tatkala Kadita terbangun, ia menjerit. Seluruh tubuhnya penuh dengan kudis, bernanah dan sangat berbau tidak enak.
Tatkala Raja Munding Wangi mendengar berita ini pada pagi harinya, sangat sedihlah hatinya. Dalam hati tahu bahwa yang diderita Kadita bukan penyakit biasa, tetapi guna-guna. Raja juga sudah menduga, sangat mungkin Mutiara yang merencanakannya. Hanya saja. Bagaimana membuktikannya. Dalam keadaan pening, Raja harus segera memutuskan.
Apa yang akan dilakukan terhadap Kadita. Atas desakan patih, putri yang semula sangat cantik itu mesti dibuang jauh agar tidak menjadikan aib.
Maka berangkatlah Kadita seorang diri, bagaikan pengemis yang diusir dari rumah orang kaya. Hatinya remuk redam; air matanya berlinangan. Namun ia tetap percaya, bahwa Sang Maha Pencipta tidak akan membiarkan mahluk ciptaanNya dianiaya sesamanya. Campur tanganNya pasti akan tiba. Untuk itu, seperti sudah diajarkan neneknya almarhum, bahwa ia tidak boleh mendendam dan membenci orang yang membencinya.
Siang dan malam ia berjalan, dan sudah tujuh hari tujuh malam waktu ditempuhnya, hingga akhirnya ia tiba di pantai Laut Selatan. Kemudian berdiri memandang luasnya lautan, ia bagaikan mendengar suara memanggil agar ia menceburkan diri ke dalam laut. Tatkala ia mengikuti panggilan itu, begitu tersentuh air, tubuhnya pulih kembali. Jadilah ia wanita cantik seperti sediakala. Tak hanya itu, ia segera menguasai seluruh lautan dan isinya dan mendirikan kerajaan yang megah, kokoh, indah dan berwibawa. Dialah kini yang disebut Ratu Laut Selatan.
Menurut cerita yang beredar Nyi Roro Kidul itu tak lain adalah seorang jin yang mempunyai kekuatan dahsyat. Hingga kini masih ada saja orang yang mencari kekayaan dengan jalan pintas yaitu dengan menyembah Nyi Roro Kidul. Mereka dapat kekayaan berlimpah tetapi harus mengorbankan keluarga dan bahkan akan mati sebelum waktunya, jiwa raga mereka akan dijadikan budak bagi kejayaan Keraton Laut Selatan.

3. Mitos Ratu Kidul Dilihat Dalam Berbagai Perspektif
a. Dalam perspektif Filsafat
Ilmu filsafat menerangkan bahwa kehidupan manusia di bumi ini memiliki dua unsur kehidupan yang saling bertolak belakang namun saling melengkapi,keduanya itu adalah kehidupan lahiriyah dan rohaniyah. Misalnya, apabila kita memiliki pikiran yang baik dan pikiran baik itu menguassai jiwa kita maka akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari, dan sebaliknya.
Kisah Ratu Kidul ini dalam bahasan filsafat memberi wawasan tentang taktik dan siasat yang digunakan Mataram untuk mengantisipasi perang yang dilancarkan Pajang terhadap Mataram. Dari sisi filsafat cerita Ratu Kidul melukiskan adanya hubungan antara bahasa sehari-hari dan pengertian ilmiah melalui lambang-lambang filosofis, seperti ungkapan yang mempersonifikasikan Ratu Kidul seakan-akan suatu sosok pribadi. Kata ratu dalam bahasa umum memberi pengertian ‘wanita sebagai pemegang tampuk pimpinan pemerintahan’, sedang bila yang memegang kekuasaan seorang pria disebut raja. Di dalam bahasa filsafat, ‘wanita’ merupakan lambang pesona atau daya tarik.
Dengan demikian Ratu Kidul melambangkan kesadaran insani bahwa “yang duniawi itu” pada hakikatnya mempunyai pesona atau daya tarik yang luar biasa kuat, yang mampu menggoda serta menguasai hati, jiwa, dan kesadaran seseorang, bahkan sanggup meruntuhkan iman seseorang.

b. Dalam Perspektif Kawruh
Sejak zaman purbakala bangsa Indonesia telah mengenal dan Tuhan Yang Mahaesa yang dilambangkan dengan “lingga” dan “yoni”. Gambar lingga dan yono leluhur nusantara dapat ditemukan di dinding-dinding gua purba, gambar kelamin lelaki untuk lingga dan gambar kelamin perempuan untuk yoni.
Dalam hal ini antara kawruh dan filsafat memiliki kesamaan. Namun juga memiliki perbedaaan dalam sudut pandang atau nilai ukurnya.
Dalam perspektif ini Ratu Kidul melambangkan Ibu Pertiwi atau ilmu pengetahuan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dalam bentuk keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

c. Dalam Perspektif Budaya
Budaya merupakan nilai dasar yang dipakai dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Budaya yang memiliki nilai tinggi adalah budaya yang berorientasi pada sember nilai ilahi ketuhanan, sedangkan budaya yang memiliki nilai rendah adalah budaya berorientasi pada sumber nilai lahiriyah dan bersumber pada filsafat manusia.
Mitos Ratu Kidul dalam Budaya memberi pelajaran dan pengertian bahwa maju mundurnya kehidupan tergantung dari kualitas manusianya. Adapun kualitas manusia terbentuk dari nilai yang digunakan sebagai acuan dan ukuran hidupnya. Apabila yang digunakan nilai rendah maka orang tersebut akan memiliki watak dan tabiat yang rendah, memiliki kualitas hidup rendah, tercermin melalui cara berfikir rendah, cara berbicara rendah, dan perilaku rendah. Sebaliknya apabila yang digunakan nilai luhur tinggi maka orang tersebut akan memiliki watak yang luhur atau sering disebut “berbudi luhur”, memiliki kualitas hidup yang luhur, yang tercermin dalam cara berfikir, berbicara, bersikap, dan perilaku.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Sistem kepercayaan yang digunakan oleh masyarakat Yogyakarta dalam memahami kisah mitos Ratu Kidul adalah animisme. Kepercayaan ini mempercayai adanya roh yang mendiami semua benda.
Dalam perspektif filsafat, Ratu Kidul melambangkan kesadaran insani bahwa “yang duniawi itu” pada hakikatnya mempunyai pesona atau daya tarik yang luar biasa kuat, yang mampu menggoda serta menguasai hati, jiwa, dan kesadaran seseorang, bahkan sanggup meruntuhkan iman seseorang.
Sedangkan dalam perspektif kawruh, Ratu Kidul melambangkan Ibu Pertiwi atau ilmu pengetahuan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dalam bentuk keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
Dan Ratu Kidul dalam perspektif Budaya memberi pelajaran dan pengertian bahwa maju mundurnya kehidupan tergantung dari kualitas manusianya.

DAFTAR PUSTAKA

Tirtahamidjaja, Ki. 2002. Mitos Ratu Kiduk Dalam Perspektif Budaya. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Junus, Umar. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta. PT Djaya Pirusa.
http://bincangprofesi.com/forum/spiritualisme/kisah-legenda-nyi-roro-kidul/, diakses pada tanggal 9 November 2011 pukul 12.06.
http://www.crayonpedia.org/mw/Sistem_kepercayaan, diakses pada tanggal 8 November 2011 pukul 20.12.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


nine − = 4

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *